NURUSYIBYAN

Rasa

Mananusia adalah makhluk yang sempurna yang dalam dirinya termasuk rasa/ perasaan juga menyatu dengannya. Sudah sewajarnya jika perasaan itu sering berubah-rubah mengikuti keadaan atau suasana lingkungan disekitarnya. Jika sakit maka perasaan yang muncul adalah lemas, tidak enak makan, jika orang terdekat meninggalkan kita maka rasa yang muncul adalah kesedihan, begitupun jika tiba-tiba mendengar anak kita lulus sarjana dengan IP tinggi, maka rasa yang muncul adalah kebahagiaan.

Semua yang kita minta, segala yang kita mohonkan pada Tuhan umumnya adalah kebahagiaan hidup di dunia (kaya, mobil mewah, karier bagus, istri cantik dll). Sementara Tuhan telah mengaruniakan nikmat yang tinggi, tapi kita melupakannya atau berpura-pura lupa. Apa nikmat yang tinggi itu? Nikmat yang tinggi itu adalah nikmat dimana jika kita menjalankannya, maka akan bahagia di alam abadi dimana tidak ada batas waktu (akhirat). Nikmat itu diantaranya adalah dijadikan mudah menjalankan sholat walaupun dalam keadaan keterbatasan, dimudahkan memuji Allah (dzikir) disaat manusia di sekitar kita berlomba-lomba menumpuk harta.

Kita sering tertipu dan terpenjara dalam angan-angan, dengan kalimat “andai”. Andai kaya, andai tampan, andai punya mobil, andai jadi pengusaha sukses dll., sementara belum ada ketetapan/ jaminan bahwa andaian-andaian kita akan menyenangkan kita, membahagiakan kita, menjadikan hati tentram, nyaman dan menggembirakan. Padahal kita sering melihat orang kaya yang susah, rumah ada dimana-mana, punya lestoran disana-sini, tapi tidak bisa menikmati apa yang dimilikinya. Sementara orang-orang yang kita pandang biasa, hidup dalam kesederhanaan bahkan dalam kekurangan, mereka mampu tersenyum bahagia, keluarganya damai, anaknya soleh-soleh, menjalankan kewajiban serasa tiada beban.

Belajar dan terus belajar adalah kebaikan, belajar melihat lingkungan kita, melihat diri kita, belajar jujur pada hati kita, bahwa materi bukanlah segalanya. Materi adalah sarana yang akan mengantar kita pada kebahagiaan yang sempurna atau kehinaan selamanya.

Dan syukur adalah salah satu kunci yang akan membawa kita pada kebahagiaan yang sesungguhnya. Menysukuri nikmat tuhan dan mensyukuri ujiannya, karena selalu ada kebaikan di dalamnya.

Kaya yang syukur/ miskin yang sabar?
Kaya yang kufur? Atau miskin yang selalu mengeluh dan menyalahkan Tuhan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: